Sabtu, 10 September 2016

Jika Rezeki telah Dibagikan kepada Seluruh Makhluk, Mengapa Sebagian Orang Menderita Kelaparan?


Di dalam surah Hud [11], ayat 6 disebutkan, “tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberikan rezeki kepadanya...”
dengan memperhatikan ayat di atas, timbul sebuah pertanyaan mengapa di dunia saat ini dan juga di sepanjang sejrah masih juga terdapat sekeompok manusia yang meninggal karena kelaparan? Apakah ini berarti bahwa rezeki mereka belum terjamin?
Dalam menjawab pertanyaan ini, kita harus memperhatikan poin-poin berikut ini:
Pertama, jaminan terhadap rezeki bukan berarti bahwa rzeki tersebbut telah diantarkan di depan pintu-pintu rumah atau dihaluskan lalu disuapkan ke dalam mulut manusia yang berakal dan mempunyai kecerdasan. Akan tetapi, yang dimaksud dengan rezeki adalah tersedianya ahan di mana usaha manusia menjadi syarat bagi terwujudnya rezeki. Bahkan ketika Siti Maryam as hendak melahirkan Isa as di tengah gurun yang gersang, dalam keadaan yang begitu susah, Allah swt memanifestasikan rezekinya dalam bentuk setangkai kurma muda yang masih menggantung di pohonnya, tetap memerintahkan kepadanya dengan firmanNya, “dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu...” (QS. Maryam [19]: 25)
Kedua, apabila manusia pada masa lalu maupun sekarang senantiasa merampas hak-hak orang lain dan mengambil apa yang telah menjadi rezeki orang lain secara kejam dan sewenang-wenang, hal ini bukanlah pernyataan terhadap ketiadaan jaminan rezeki dari Allah swt dengan ibarat lain, selain persoalan usaha dan upaya, wujudnya keadilan dalam komunitas masyarakat pu menjadi syarat bagi terwujudnya pembagian rezeki secara adil. Apabila mereka menanyaan, “mengapa Allah tidak menghalangi kezaliman para pembuat kerusakan ini?”. Prinsip kehidupan manusia terletak pada kebebasan berkehendak sehingga ia mendapatkan ujian, bukan pemaksaan.
Ketiga, terdapat begitu banyak sumber pangan untuk manusia di bumi ini yang bisa ditemukan dan dimanfaatkan dengan menggunakan otak dan ketelatenan.

Tidak seharusnya kita melupakan bahwa dataran-dataran yang ada di bumi Afrika yang kebanyakan penduduknya mati karena kelaparan, pada kenyataannya, sebagian dari negara-negara tersebut merupakan daerah yang paling kaya di seluruh dunia. Akan tetapi, faktor-faktor perusak telah membuat kehidupan mereka menjadi kelam sebagaimana yang terlihat saat ini.

Kamis, 08 September 2016

Apakah Ajaran yang Dimiliki oleh Nabi saw Sebelum Diutus sebagai Nabi?


Tidak ragu lagi bahwa sebelum diutus menjadi nabi (bi’tsah), Nabi saw tidak pernah sujud kepada berhala dan menyimpang ari garis tauhid. Sejarah kehidupannya dengan baik merefleksikan makna ini. Akan tetapi, ajaran manakah yang menjadi ikutan Nabi saw sebelum periode pengutusan? Hal ini masih menjadi bahan dialog di antara ulama.
Sebagian berpendapat bahwa Nabi saw mengikuti ajaran Nabi Isa as, lantaran sebelum periode bi’tsah, ajaran yang resmi dan belum dihapus oleh ajaran lain adalah ajaran Nabi Isa as.
Sebagian yang ain berpendapat bahwa Nabi saw adalah pengikut ajaran Nabi Ibrahim as, karena Nabi Ibrahim as merupakan Syaikh Al-Anbiya; bapak para nabi. Sebagian ayat pun menerangkan Islam sebagai ajaran Nabi Ibrahim as, “... agama orang tuamu Ibrahim...”(QS. Al-Hajj[22]: 78)
Sebagian lagi mengungkapkan etidak tahuan mereka dan berkata, “kita tahu bahwa Nabi saw memiliki ajaran. Namun, ajaran apa? Hal ini tidak jelas bagi kita.”
Meski masing-masing pendapat itu memiliki alasan, tetapi tidak satu pun yang dapat dipastikan. Namun, yang lebih mendekati kebenaran di antara ketiga pendapat di atas adalah pendapat yang keempat; bahwa Nabi saw secara pribadi memiliki program khusus dari sisi Allah SWT dan beramal berdasarkan program tersebut. Program khusus ini adalah ajaran khusus Nabi saw hingga masa Islam diturunkan untuknya.

Dalil lain adalah tidak satu pun sejarah yang melaporkan bahwa Nabi saw sibuk beribadah di dalam sinagog (peribadatan agama Yahudi) dan gereja. Beliau tidak pernah berada di samping seorang kafir dan juga tidak di sisi Ahli Kitab untuk beribadah di tempat-tempat ibadah mereka. Sementara itu, beliau harus melanjutkan tongkat estafet dari nabi-nabi sebelumnya di atas jalan tauhid. Nabi saw konsisten pada prinsip akhlak mulia dan penyembahan kepada Tuhan.

Selasa, 06 September 2016

Mengapa Allah Swt Menguji Manusia?


            Bukankah ujian adalah agar kita mengenal seseorang atau segala sesuatu yang kabur dan mengurangi tingkat kebodohan kita? Jika demikian adanya, lalu mengapa Allah Swt –yang ilmu-Nya telah meliputi segala sesuatu, mengetahui semua rahasia lahir dan batin, mengetahui langit dan bumi dengan ilmu-Nya yang tak terbatas –masih merasa perlu untuk menguji manusia? Apakah ada sesuatu yang tersembunyi bagi-Nya sehingga untuk mengetahuinya Dia harus memberikan ujian kepada manusia?
            Ujian dan cobaan yang diberikan Allah Swt sangatlah berbeda dengan ujian-ujian yang ada pada kita. Ujian-ujian yang ada pada kita adalah –seperti yang telah dijelaskan diatas –untuk mengenal lebih banyak dan menyingkap kejahilan. Akan tetapi, ujian ilahi pada dasarnya bertujuan untuk pendidikan.
            Allah Swt menguji manusia dengan tujuan membuat bakat-bakat yang tersimpan nampak dan mengubah sesuatu dari wujud potensi menjadi aktual dan pada akhirnya –untuk mendidik para hamba. Sebagaimana baja harus di masukan ke dalam tungku pembakaran terlebih dahulu untuk menghasilkan baja yang berkualitas tinggi, demikian juga halnya dengan manusia pun harus ditempa dan dididik terlebih dahulu dengan musibah-musibah yang berat dan kesulitan yang beragam untuk menjadi insan yang berkualitas baja dan tahan tempa.
            Untuk menghasilkan seorang serdadu yang kuat dan kokoh di medan perang, para tentara dan serdadu harus dibawa ke medan-medan perang buatan, dan meninggalkan mereka di dalam keadaan sulit, seperti kehausan, kelaparan, dingin, panas dan kondisi-kondisi kritis, sehingga mereka menjadi serdadu yang kuat dan matang. Inilah yang dinamakan dengan rahasia dari ujian ilahi.
Di tempat lain, Al-qur’an menjelaskan hakikat ini: “... dan Allah [berbuat demikian] untuk menguji apa yang ada di dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang berada di dalam hatimu.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 154)
            Ali bin Abi Thalib as memberikan penjelasan tentang filsafat ujian ilahi ini dalam ungkapannya: “Dan meskipun Allah lebih mengetahui keadaan spiritual para hamba-Nya daripada mereka sendiri, akan tetapi Dia tetap memberikan ujian kepada mereka untuk menampakkan perbuatan-perbuatan baik dari perbuatan yang buruk dan sebaliknya, dan ini merupakan tolok ukur perolehan pahala atau siksa.”

Yaitu, karakter yang berada dalam diri insan tidak bisa secara sendiri dijadikan sebagai tolok ukur untuk mendapatkan pahala atau siksa. Karakter ini hanya akan bisa dijadikan tolok ukur untuk pahala atau siksa ketika telah diimplemetasikan ke dalam perbuatan manusia. Allah Swt memberi cobaan kepada para hamba-Nya supaya mereka memanifestasikan bakat dan potensi terpendam mereka dalam bentuk perbuatan, dan mengembangkannya menjadi aktual, sehingga bisa ditentukan apakah mereka berhak untuk mendapatkan pahala ataukah siksa.           

Apakah Hak-Hak yang Diberikan Islam kepada Kaum Wanita?


            Di era baru ini, wanita telah menjadi sosok mandiri yang mendapatkan seluruh haknya, baik dari sisi individual maupun sosial. Sebagaimana wanita mempunyai kewajiban yang berat di dalam masyarakat, mereka juga mempunyai hak-hak yang perlu pula untuk mendapatkan perhatian dan kepedulian.
            Islam senantiasa menganggap kedudukan wanita sejajar dengan kedudukan pria dari sisi hakikat kesempurnaan insani, kemauan serta hak pilihannya. Oleh karena itu, mereka diletakan secara berdampingan dengan pria dan sejajar dalam satu barisan, lalu menyeru mereka berdua dengan satu nada, “wahai manusia,”atau “wahai orang-orang yang beriman”.
Melalui ayat-ayat semacam “...dan barangsiapa mengerjakan amal yang salih, baik pria maupun wanita, sedangkan ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga...”(QS. Al-Gafir[40]: 40), islam telah menjanjikan adanya kebahagiaan dalam mencapai kesempurnaan untuk keduanya.
            islam telah menganggap kedudukan wanita sama dengan kedudukan pria dalam keseluruhan makna kemandirian dan kebebasannya, dan Al-qur’an dengan ayat seperti “kullu nafsin bima kasabat rahinah” atau “man’amila solihan falinafsih wa man asa a fa’alaiha” menegaskan bahwa kebebasan yang ada disini adalah kebebasan individu secara umum, baik kebebasan bagi pria maupun bagi wanita. Oleh karena itu, dalam aturan tentang hukuman pun, kita melihat dalam ayat “wanita yang berzina dan pria yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera...” (QS. Al-Nur [24]: 2)
            pada sisi lain, karena kemandirian merupakan kelaziman dari kehendak dan hak pilih, islam memberikan kemandirian ini dalam hak-hak kepemilikan secara luar kepada wanita dan tidak ada sedikitpun halangan baginya dalam melakukan jenis-jenis transaksi kekayaan, dan wanita juga merupakan pemilik kekayaan dan modalnya sendiri. Dalam sebuah ayat kita membaca, ..bagi pria terdapat bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi wanita terdapat bagian dari apa yang mereka usahakan...(QS. Al-Nisa [4]: 32)
            perbedaan pria dan wanita dalam spiritual dan jasmani dan perbedaan kewajiban, apakah dengan adanya perbedaan ini bisa dikatakan bahwa pria dan wanita harus senantiasa berjalan secara sejajar dalam semua hal, dan dalam keseluruhan aktivitas pun mereka harus seratus persen tidak mempunyai perbedaan? Bukanlah sebelumnya telah dijelaskan bahwa kita harus menjadi pendukung keadilan sosial? Tidaklah keadilan menyatakan bahwa setiap individu harus melakukan apa yang menjadi kewajibannya dan memanfaatkan pemberian-pemberian, kelebihan-kelebihan, dan wujudnya sendiri?
Oleh karena itu, bukanlah mengikutsertakan seorang wanita dalam aktivitas-aktivitas yang berada di luar batas roh dan jasmaninya merupakan suatu hal yang bertentangan dengan hakikat keadilan?
            Di sinilah kita melihat, selain menjadi pendukung keadilan, Islam juga mendahulukan peran pria pada sebagian aktivitas-aktivitas sosial dan masyarakat yang lebih banyak membutuhkan kekerasan dan kecermatan, seperti sebagai seorang pelindung dan pengayom sebuah bahtera rumah tangga, sedangkan kedudukan asisten rumah tangga diserahkan pada wanita.
      Sebuah rumah dan masyarakat masing-masing membutuhkan adanya pemimpin, dan problematika kepemimpinan pada puncaknya terfokus pada diri orang itu sendiri. Apabila tidak demikian, akan terjadi kekacauan. Dalam kondisi semacam ini, manakah yang lebih baik untuk dijadikan sebagai kandidat? Pria atau wanita? Semua pakar yang jauh dari fanatisme mengatakan bahwa keadaan biologis pria menyebabkan kepemimpinan dan pengaturan keluarga berada dalam tanggung jawabnya, dan wanita menjadi asistennya.

            Meskipun sebagian kelompok memaksakan diri untuk tidak memperdulikan hakikat ini, akan tetapi kondisi kehidupan mereka diluar, bahkan di dunia sekarang ini dan di negara-negara yang mengklaim dirinya telah memberikan kebebasan mutlak dan persamaan derajat yang penuh kepada pria dan wanita, memperlihatkan bahwa perilaku mereka dalam masalah ini tetap saja sebagaimana yang telah disebutkan di atas, meskipun perkataan mereka berlawanan dengan apa yang mereka lakukan.

Senin, 05 September 2016

AYAT-AYAT AL-QUR’AN TIDAK SALING BERTENTANGAN


         Tidak diragukan bahwa perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkataan manusia pada setiap tingkatan usianya tidak semuanya sama; karena pemikiran dan ilmu manusia mengalami penyempurnaan. Hasil keilmuan setiap orang alim berbeda-beda sesuai dengan tingkat usianya karena berubahnya pikiran mengakibatkan perubahan pada ilmu sebagai hasil pemikiran. Al-qur’an adalah kitab yang meliputi berbagai macam ilmu, seperti pengetahuan tentang mabda’ dan ma’ad , alam semesta, hubungan manusia dengan penciptanya, kewajiban-kewajiban individu dan masyarakat, kisah-kisah umat terdahulu, keadaan para nabi dan lain-lain.
            Al-qur’an tersebut dibacakan kepada manusia oleh seseorang yang ummi (tidak pernah belajar pada seorang guru) selama 23 tahun. Orang tersebut hidup dalam situasi dan kondisi yang serba sulit, seperti gangguan orang-orang musyrik di Mekkah dan perang yang terus berkelanjutan dengan mereka serta tipu daya orang-orang munafik. Faktor-faktor tersebut diatas mengganggu dan merusak konsentrasi.
            Dengan memperhitungkan dan melihat lamanya jangka waktu serta banyaknya faktor-faktor tersebut di atas, kita mengetahui bahwa seandainya kitab suci ini tidak bersumber dari Allah SWT, maka sudah pasti apa yang terdapat didalamnya saling bertentangan. Namun kita tidak mendapatkan sedikitpun pertentangan di dalam Al-qur’an. Hal ini membuktikan bahwa Al-qur’an diturunkan dari ufuk yang lebih tinggi daripada pemikiran manusia. Al-qur’an adalah wahyu Allah yang suci dari kelalaian dan kebodohan. Firman Allah SWT:
“Maka apakah mereka tidak merenungkan Al-qur’an? Kalau kiranya Al-qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak didalamnya”.

(Q.S. An-Nisa [4]: 82)

BAHASA AIR MATA

Banyak cara untuk menyampaikan pesan dan terdapat aneka ragam bahasa berkomunikasi, bahkan berdiam seribu bahasa sering lebih efektif untuk mengungkapkan sikap Siti Maryam, ibu Nabi Isa AS. yang diperintahkan Allah SWT. berdiam atau menggunakan simbol untuk menyampaikan pesan (QS 3:41 dan 9:26). Bahasa terkadang tidak seampuh lirikan mata untuk mengekspresikan asmara. "Lumpuh ungkapan bahasa, namun tatapan mata yang menyala lebih ampuh untuk mengekspresikan cintaku kepada kekasih", kata Syauqi. Diantara sekian banyak sarana komunikasi, linangan airmata atau tangis merupakan pesan yang sangat dalam.
Kita dapat bertanya pada diri kita masing-masing kapan terakhir kita menangis dan mengapa kita menangis. Mencucurkan air mata bukan semata monopoli anak kecil atau kaum wanita. Manusia-manusia agung pun mencucurkan airmata.
Pertama-tama kita harus sadari bahwa menangis adalah kenyataan biologis, ia berfungsi sebagai sistem pembersih kornea mata. Oleh karenanya jika air mata mengendap dibalik mata, alat penglihatan akan terganggu. Binatang pun menangis, tapi mungkin hanya manusia yang mengaitkan airmata dengan responsi emosial. Ahli-ahli ilmu Jiwa mendeteksi bahwa mereka yang sering menangis, terutama anak-anak kecil, lebih sempurna keinginannya ketimbang yang jarang menangis. Manusia adalah makhluk yang peka dan acap menangis, ia menangisi jika disakiti, ketika ia takut, ia sedih ingin dikasihani, bahkan apabila bahagia.
Masih dalam lingkup menangis, manusia terkadang mengeluarkan airmata buaya jika hendak mengelabuhi atau menipu. Oleh karenanya kita perlu memahami bahasa airmata. Bahasa ini terkadang lebih jelas dari bahasa kata-kata, ia memiliki aturan tertentu yang menghubungkan pemikiran dan emosi melalui sarana yang sangat canggih. Namun sayangnya manusia pada umumnya menggunakan standar ganda dalam menghadapi budaya tangis. Hanya kaum Hawa yang dinilai wajar menangis, bahkan dalam kebudayaan tertentu wanita akan diberi tempat layak apabila ia mengucurkan airmata pada situasi tertentu. Sebaliknya anak lelaki atau pria, rasa hormat akan diberikan ketika mereka dapat menahan airmata. Bahkan atribut ketegaran sering diberikan kepada seorang wanita, dikala ia menahan linangan airmata.
Kalau saja kita dapat memahami bahasa tangis, pandangan sepihak yang selama ini membentuk persepsi kita akan lambat laun kita tanggalkan. Salah satu cara untuk mengoreksi kekeliruan tersebut adalah upaya untuk membedakan tipe-tipe tangis yang sangat bervariasi.

Variasi Tangis
Airmata dapat melaju karena faktor fisiologis. Mata terkena debu, aroma bawang atau gas yang mengandung bahan kimia. Airmata juga dapat keluar saat tingkat hormon tidak seimbang. Adapula airmata yang didorong oleh kenangan yang mengesankan, yang indah atau yang buruk. Kita hidupkan kenangan-kenangan tersebut melalui linangan airmata. Lain lagi airmata yang memberikan rasa lega, yang berfungsi sebagai terapi untuk mengatasi rasa cemas yang berkepanjangan. Kita pun menangis akibat tangisan orang banyak, misalnya tangisan saat perkawinan, wisuda atau memasuki masa purnabhakti. Airmata ini pertanda keakraban hubungan.
Airmata juga melambangkan ekspresi rasa kehilangan, terutama bila yang hilang sangat berarti bagi seseorang. Jangankan manusia, meninggalnya anjing kesayangan mantan Presiden Amerika, George Bush, sangat membesar pada hati keluarga Bush, demikian menurut berita CNN. Kematian tanpa cucuran airmata dianggap anomali. Dalam kebudayaan Yunani, Cina dan Timur Tengah, wanita bayaran untuk meratapi jenazah masih berlaku sampai sekarang. Pada saat-saat perpisahan, airmata mengekspresikan rasa penghargaan dan mengundang refleksi, depresi, frustasi dan putus-asa juga membangkitkan laju airmata yang deras. Airmata yang keluar saat itu sebagai akibat ketidakberdayaan, sangat menyayat hati. Ketika itu kita benci melihat tetesan airmata.
Dilain pihak, kita sering menangis karena tidak dapat membendung kebahagiaan. Ungkapan kata sangat terbatas untuk menampung rasa bahagia yang begitu dahsyat. Kelahiran anak pertama, keberhasilan yang didambakan. Airmata simpati akibat kesedihan yang ditimpa orang lain sering juga kita alami. Bahkan terkadang kita sengaja mengeluarkan uang untuk mengundang air mata tersebut melalui pertunjukan film. Imaginasi kita dapat membangkitkan rasa haru yang disusul dengan tangisan tersedu-sedu. Ada pula tangisan yang bersifat manipulatif dengan cara mengundang simpati orang lain, menunjukkan penyesalan guna meringankan vonis/hukuman. Yang paling pandai menggunakan tangisan ini adalah anak-anak dan mungkin juga wanita, demikian Joseph Kottle dalam bukunya The Language of Tears.

Agama dan Tangis
Air mata yang tercurah akibat penyesalan atau dosa, ketakutan akan siksaan Tuhan atau kekhawatiran akan nasib, kesemuannya mendapat tempat terpuji dalam perbendaharaan bahasa kitab suci. Dalam literatur tasawuf, sebelum kata "Sufi" (yang menunjuk kepada kelompok yang menekankan aspek spritual dalam kehidupannya), populer digunakan, kelompok ini diberi atribut Al-Bakkauun yang berarti "Penangis atau yang suka menangis". Kelompok ini yang dipelopori oleh Al-Hasan Al-Bashri, tiap kali merenungkan ayat-ayat Al-Quran mereka menangis tersedu-sedu. Ketika surga disebut, mereka mengucurkan airmata sambil berharap dapat memasukinya, dan ketika siksaan neraka digambarkan mereka pun menangis karena takut terjerumus kepadanya.
Pengalaman spiritual seseorang khususnya di tempat-tempat suci membangkitkan rasa syahdu, khusyuk sehingga airmata laju tak terbendung. Umat Yahudi bahkan memiliki Wailing Wall (Dinding Ratap), dimana mereka meratap sambil memohon ampunan. Demikian halnya umat Kristen ketika ke Jerusalem, sambil mengenang kehidupan serta perjalanan spiritual Yesus, airmata yang membasahi pipi terlihat dimana-mana. Tidak ubahnya dengan umat Islam yang berdiri di Multazam (sisi kanan Hajar Aswad di Ka'bah).
Belum lagi saat di makam Rasulullah di Madinah sambil mengucapkan salam dan penghargaan kepada Beliau, suara tangis terdengar walau dari kejauhan. Sungguh, bahasa airmata secara jelas menyampaikan pesannya, "Ya Tuhan, aku datang memohon ampunan dan mengharapkan rahmat. Ya Tuhan, berilah aku kekuatan untuk mengikuti jejak RasulMu".
Dalam Al-Qur'an kita jumpai kata-kata menangis, atau cucuran airmata disebut beberapa kali. Terkadang menggambarkan kesedihan atas kematian (44:29), atau kekhawatiran atas ancaman Tuhan (53:60). Terekam pula airmata saudara-saudara Nabi Yusuf AS. saat mengelabuhi ayahnya, Nabi Ya'qub AS. (12:16). Tangis sedu lagi khusyu' sebagai manifestasi iman kepada Allah SWT (17:107 dan 19:58). Curahan airmata dibarengi dengan kesaksian terhadap kebenaran wahyu ilahi (5:83). Tergambar pula tangisan suatu kelompok yang bersedih hati karena harus tertinggal dari suatu peperangan dijalan Allah (9:92).
Mari kita merenung bersama, apa yang menjadikan airmata kita melaju. Apakah hanya terbatas ketika sedih karena kehilangan, depresi karena frustasi, atau ketidakberdayaan karena jalan buntu? Masih tertinggalkah tetesan airmata saat mendengar peringatan Tuhan, atau mengenang perjuangan rasul-rasul Nya? Semoga demikian. [undzurilaina.blogspot.com]

Penulis adalah Professor pada Hartford Seminary, Connecticut, USA