Tidak diragukan bahwa
perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkataan manusia pada setiap tingkatan
usianya tidak semuanya sama; karena pemikiran dan ilmu manusia mengalami
penyempurnaan. Hasil keilmuan setiap orang alim berbeda-beda sesuai dengan
tingkat usianya karena berubahnya pikiran mengakibatkan perubahan pada ilmu
sebagai hasil pemikiran. Al-qur’an adalah kitab yang meliputi berbagai macam
ilmu, seperti pengetahuan tentang mabda’ dan
ma’ad , alam semesta, hubungan
manusia dengan penciptanya, kewajiban-kewajiban individu dan masyarakat,
kisah-kisah umat terdahulu, keadaan para nabi dan lain-lain.
Al-qur’an tersebut dibacakan kepada
manusia oleh seseorang yang ummi (tidak
pernah belajar pada seorang guru) selama 23 tahun. Orang tersebut hidup dalam
situasi dan kondisi yang serba sulit, seperti gangguan orang-orang musyrik di
Mekkah dan perang yang terus berkelanjutan dengan mereka serta tipu daya
orang-orang munafik. Faktor-faktor tersebut diatas mengganggu dan merusak
konsentrasi.
Dengan memperhitungkan dan melihat
lamanya jangka waktu serta banyaknya faktor-faktor tersebut di atas, kita
mengetahui bahwa seandainya kitab suci ini tidak bersumber dari Allah SWT, maka
sudah pasti apa yang terdapat didalamnya saling bertentangan. Namun kita tidak
mendapatkan sedikitpun pertentangan di dalam Al-qur’an. Hal ini membuktikan
bahwa Al-qur’an diturunkan dari ufuk yang lebih tinggi daripada pemikiran
manusia. Al-qur’an adalah wahyu Allah yang suci dari kelalaian dan kebodohan. Firman
Allah SWT:
“Maka apakah mereka tidak
merenungkan Al-qur’an? Kalau kiranya Al-qur’an itu bukan dari sisi Allah,
tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak didalamnya”.
(Q.S.
An-Nisa [4]: 82)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar