Tidak ragu lagi bahwa sebelum diutus menjadi nabi (bi’tsah), Nabi saw tidak pernah sujud kepada berhala dan
menyimpang ari garis tauhid. Sejarah kehidupannya dengan baik merefleksikan
makna ini. Akan tetapi, ajaran manakah yang menjadi ikutan Nabi saw sebelum
periode pengutusan? Hal ini masih menjadi bahan dialog di antara ulama.
Sebagian berpendapat bahwa Nabi saw mengikuti ajaran Nabi Isa as, lantaran
sebelum periode bi’tsah, ajaran yang resmi dan belum dihapus oleh ajaran lain
adalah ajaran Nabi Isa as.
Sebagian yang ain berpendapat bahwa Nabi saw adalah pengikut ajaran Nabi
Ibrahim as, karena Nabi Ibrahim as merupakan Syaikh Al-Anbiya; bapak para nabi. Sebagian ayat pun menerangkan
Islam sebagai ajaran Nabi Ibrahim as, “...
agama orang tuamu Ibrahim...”(QS. Al-Hajj[22]: 78)
Sebagian lagi mengungkapkan etidak tahuan mereka dan berkata, “kita tahu
bahwa Nabi saw memiliki ajaran. Namun, ajaran apa? Hal ini tidak jelas bagi
kita.”
Meski masing-masing pendapat itu memiliki alasan, tetapi tidak satu pun
yang dapat dipastikan. Namun, yang lebih mendekati kebenaran di antara ketiga
pendapat di atas adalah pendapat yang keempat; bahwa Nabi saw secara pribadi memiliki
program khusus dari sisi Allah SWT dan beramal berdasarkan program tersebut. Program
khusus ini adalah ajaran khusus Nabi saw hingga masa Islam diturunkan untuknya.
Dalil lain adalah tidak satu pun sejarah yang melaporkan bahwa Nabi saw
sibuk beribadah di dalam sinagog (peribadatan agama Yahudi) dan gereja. Beliau tidak
pernah berada di samping seorang kafir dan juga tidak di sisi Ahli Kitab untuk
beribadah di tempat-tempat ibadah mereka. Sementara itu, beliau harus
melanjutkan tongkat estafet dari nabi-nabi sebelumnya di atas jalan tauhid. Nabi
saw konsisten pada prinsip akhlak mulia dan penyembahan kepada Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar