Selasa, 06 September 2016

Mengapa Allah Swt Menguji Manusia?


            Bukankah ujian adalah agar kita mengenal seseorang atau segala sesuatu yang kabur dan mengurangi tingkat kebodohan kita? Jika demikian adanya, lalu mengapa Allah Swt –yang ilmu-Nya telah meliputi segala sesuatu, mengetahui semua rahasia lahir dan batin, mengetahui langit dan bumi dengan ilmu-Nya yang tak terbatas –masih merasa perlu untuk menguji manusia? Apakah ada sesuatu yang tersembunyi bagi-Nya sehingga untuk mengetahuinya Dia harus memberikan ujian kepada manusia?
            Ujian dan cobaan yang diberikan Allah Swt sangatlah berbeda dengan ujian-ujian yang ada pada kita. Ujian-ujian yang ada pada kita adalah –seperti yang telah dijelaskan diatas –untuk mengenal lebih banyak dan menyingkap kejahilan. Akan tetapi, ujian ilahi pada dasarnya bertujuan untuk pendidikan.
            Allah Swt menguji manusia dengan tujuan membuat bakat-bakat yang tersimpan nampak dan mengubah sesuatu dari wujud potensi menjadi aktual dan pada akhirnya –untuk mendidik para hamba. Sebagaimana baja harus di masukan ke dalam tungku pembakaran terlebih dahulu untuk menghasilkan baja yang berkualitas tinggi, demikian juga halnya dengan manusia pun harus ditempa dan dididik terlebih dahulu dengan musibah-musibah yang berat dan kesulitan yang beragam untuk menjadi insan yang berkualitas baja dan tahan tempa.
            Untuk menghasilkan seorang serdadu yang kuat dan kokoh di medan perang, para tentara dan serdadu harus dibawa ke medan-medan perang buatan, dan meninggalkan mereka di dalam keadaan sulit, seperti kehausan, kelaparan, dingin, panas dan kondisi-kondisi kritis, sehingga mereka menjadi serdadu yang kuat dan matang. Inilah yang dinamakan dengan rahasia dari ujian ilahi.
Di tempat lain, Al-qur’an menjelaskan hakikat ini: “... dan Allah [berbuat demikian] untuk menguji apa yang ada di dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang berada di dalam hatimu.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 154)
            Ali bin Abi Thalib as memberikan penjelasan tentang filsafat ujian ilahi ini dalam ungkapannya: “Dan meskipun Allah lebih mengetahui keadaan spiritual para hamba-Nya daripada mereka sendiri, akan tetapi Dia tetap memberikan ujian kepada mereka untuk menampakkan perbuatan-perbuatan baik dari perbuatan yang buruk dan sebaliknya, dan ini merupakan tolok ukur perolehan pahala atau siksa.”

Yaitu, karakter yang berada dalam diri insan tidak bisa secara sendiri dijadikan sebagai tolok ukur untuk mendapatkan pahala atau siksa. Karakter ini hanya akan bisa dijadikan tolok ukur untuk pahala atau siksa ketika telah diimplemetasikan ke dalam perbuatan manusia. Allah Swt memberi cobaan kepada para hamba-Nya supaya mereka memanifestasikan bakat dan potensi terpendam mereka dalam bentuk perbuatan, dan mengembangkannya menjadi aktual, sehingga bisa ditentukan apakah mereka berhak untuk mendapatkan pahala ataukah siksa.           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar