Bukankah ujian adalah agar kita
mengenal seseorang atau segala sesuatu yang kabur dan mengurangi tingkat
kebodohan kita? Jika demikian adanya, lalu mengapa Allah Swt –yang ilmu-Nya
telah meliputi segala sesuatu, mengetahui semua rahasia lahir dan batin,
mengetahui langit dan bumi dengan ilmu-Nya yang tak terbatas –masih merasa perlu
untuk menguji manusia? Apakah ada sesuatu yang tersembunyi bagi-Nya sehingga
untuk mengetahuinya Dia harus memberikan ujian kepada manusia?
Ujian dan cobaan yang diberikan
Allah Swt sangatlah berbeda dengan ujian-ujian yang ada pada kita. Ujian-ujian
yang ada pada kita adalah –seperti yang telah dijelaskan diatas –untuk mengenal
lebih banyak dan menyingkap kejahilan. Akan tetapi, ujian ilahi pada dasarnya
bertujuan untuk pendidikan.
Allah Swt menguji manusia dengan
tujuan membuat bakat-bakat yang tersimpan nampak dan mengubah sesuatu dari
wujud potensi menjadi aktual dan pada akhirnya –untuk mendidik para hamba. Sebagaimana
baja harus di masukan ke dalam tungku pembakaran terlebih dahulu untuk
menghasilkan baja yang berkualitas tinggi, demikian juga halnya dengan manusia
pun harus ditempa dan dididik terlebih dahulu dengan musibah-musibah yang berat
dan kesulitan yang beragam untuk menjadi insan yang berkualitas baja dan tahan
tempa.
Untuk menghasilkan seorang serdadu
yang kuat dan kokoh di medan perang, para tentara dan serdadu harus dibawa ke
medan-medan perang buatan, dan meninggalkan mereka di dalam keadaan sulit,
seperti kehausan, kelaparan, dingin, panas dan kondisi-kondisi kritis, sehingga
mereka menjadi serdadu yang kuat dan matang. Inilah yang dinamakan dengan
rahasia dari ujian ilahi.
Di
tempat lain, Al-qur’an menjelaskan hakikat ini: “... dan Allah [berbuat demikian] untuk menguji apa yang ada di dalam
dadamu dan untuk membersihkan apa yang berada di dalam hatimu.” (QS. Ali ‘Imran
[3]: 154)
Ali bin Abi Thalib as memberikan
penjelasan tentang filsafat ujian ilahi ini dalam ungkapannya: “Dan meskipun
Allah lebih mengetahui keadaan spiritual para hamba-Nya daripada mereka sendiri,
akan tetapi Dia tetap memberikan ujian kepada mereka untuk menampakkan
perbuatan-perbuatan baik dari perbuatan yang buruk dan sebaliknya, dan ini
merupakan tolok ukur perolehan pahala atau siksa.”
Yaitu, karakter yang berada dalam diri insan tidak bisa secara sendiri dijadikan
sebagai tolok ukur untuk mendapatkan pahala atau siksa. Karakter ini hanya akan
bisa dijadikan tolok ukur untuk pahala atau siksa ketika telah diimplemetasikan
ke dalam perbuatan manusia. Allah Swt memberi cobaan kepada para hamba-Nya supaya
mereka memanifestasikan bakat dan potensi terpendam mereka dalam bentuk
perbuatan, dan mengembangkannya menjadi aktual, sehingga bisa ditentukan apakah
mereka berhak untuk mendapatkan pahala ataukah siksa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar