Banyak cara untuk menyampaikan pesan
dan terdapat aneka ragam bahasa berkomunikasi, bahkan berdiam seribu bahasa
sering lebih efektif untuk mengungkapkan sikap Siti Maryam, ibu Nabi Isa AS.
yang diperintahkan Allah SWT. berdiam atau menggunakan simbol untuk
menyampaikan pesan (QS 3:41 dan 9:26). Bahasa terkadang tidak seampuh lirikan
mata untuk mengekspresikan asmara. "Lumpuh ungkapan bahasa, namun tatapan
mata yang menyala lebih ampuh untuk mengekspresikan cintaku kepada
kekasih", kata Syauqi. Diantara sekian banyak sarana komunikasi, linangan
airmata atau tangis merupakan pesan yang sangat dalam.
Kita dapat bertanya pada diri kita
masing-masing kapan terakhir kita menangis dan mengapa kita menangis.
Mencucurkan air mata bukan semata monopoli anak kecil atau kaum wanita.
Manusia-manusia agung pun mencucurkan airmata.
Pertama-tama kita harus sadari bahwa
menangis adalah kenyataan biologis, ia berfungsi sebagai sistem pembersih
kornea mata. Oleh karenanya jika air mata mengendap dibalik mata, alat
penglihatan akan terganggu. Binatang pun menangis, tapi mungkin hanya manusia
yang mengaitkan airmata dengan responsi emosial. Ahli-ahli ilmu Jiwa mendeteksi
bahwa mereka yang sering menangis, terutama anak-anak kecil, lebih sempurna
keinginannya ketimbang yang jarang menangis. Manusia adalah makhluk yang peka
dan acap menangis, ia menangisi jika disakiti, ketika ia takut, ia sedih ingin
dikasihani, bahkan apabila bahagia.
Masih dalam lingkup menangis,
manusia terkadang mengeluarkan airmata buaya jika hendak mengelabuhi atau
menipu. Oleh karenanya kita perlu memahami bahasa airmata. Bahasa ini terkadang
lebih jelas dari bahasa kata-kata, ia memiliki aturan tertentu yang
menghubungkan pemikiran dan emosi melalui sarana yang sangat canggih. Namun
sayangnya manusia pada umumnya menggunakan standar ganda dalam menghadapi
budaya tangis. Hanya kaum Hawa yang dinilai wajar menangis, bahkan dalam
kebudayaan tertentu wanita akan diberi tempat layak apabila ia mengucurkan
airmata pada situasi tertentu. Sebaliknya anak lelaki atau pria, rasa hormat
akan diberikan ketika mereka dapat menahan airmata. Bahkan atribut ketegaran
sering diberikan kepada seorang wanita, dikala ia menahan linangan airmata.
Kalau saja kita dapat memahami
bahasa tangis, pandangan sepihak yang selama ini membentuk persepsi kita akan
lambat laun kita tanggalkan. Salah satu cara untuk mengoreksi kekeliruan
tersebut adalah upaya untuk membedakan tipe-tipe tangis yang sangat bervariasi.
Variasi
Tangis
Airmata dapat melaju karena faktor
fisiologis. Mata terkena debu, aroma bawang atau gas yang mengandung bahan
kimia. Airmata juga dapat keluar saat tingkat hormon tidak seimbang. Adapula
airmata yang didorong oleh kenangan yang mengesankan, yang indah atau yang
buruk. Kita hidupkan kenangan-kenangan tersebut melalui linangan airmata. Lain
lagi airmata yang memberikan rasa lega, yang berfungsi sebagai terapi untuk
mengatasi rasa cemas yang berkepanjangan. Kita pun menangis akibat tangisan
orang banyak, misalnya tangisan saat perkawinan, wisuda atau memasuki masa
purnabhakti. Airmata ini pertanda keakraban hubungan.
Airmata juga melambangkan ekspresi
rasa kehilangan, terutama bila yang hilang sangat berarti bagi seseorang.
Jangankan manusia, meninggalnya anjing kesayangan mantan Presiden Amerika,
George Bush, sangat membesar pada hati keluarga Bush, demikian menurut berita
CNN. Kematian tanpa cucuran airmata dianggap anomali. Dalam kebudayaan Yunani,
Cina dan Timur Tengah, wanita bayaran untuk meratapi jenazah masih berlaku
sampai sekarang. Pada saat-saat perpisahan, airmata mengekspresikan rasa
penghargaan dan mengundang refleksi, depresi, frustasi dan putus-asa juga
membangkitkan laju airmata yang deras. Airmata yang keluar saat itu sebagai
akibat ketidakberdayaan, sangat menyayat hati. Ketika itu kita benci melihat
tetesan airmata.
Dilain pihak, kita sering menangis
karena tidak dapat membendung kebahagiaan. Ungkapan kata sangat terbatas untuk
menampung rasa bahagia yang begitu dahsyat. Kelahiran anak pertama,
keberhasilan yang didambakan. Airmata simpati akibat kesedihan yang ditimpa orang
lain sering juga kita alami. Bahkan terkadang kita sengaja mengeluarkan uang
untuk mengundang air mata tersebut melalui pertunjukan film. Imaginasi kita
dapat membangkitkan rasa haru yang disusul dengan tangisan tersedu-sedu. Ada
pula tangisan yang bersifat manipulatif dengan cara mengundang simpati orang
lain, menunjukkan penyesalan guna meringankan vonis/hukuman. Yang paling pandai
menggunakan tangisan ini adalah anak-anak dan mungkin juga wanita, demikian
Joseph Kottle dalam bukunya The Language of Tears.
Agama dan
Tangis
Air mata yang tercurah akibat
penyesalan atau dosa, ketakutan akan siksaan Tuhan atau kekhawatiran akan nasib,
kesemuannya mendapat tempat terpuji dalam perbendaharaan bahasa kitab suci.
Dalam literatur tasawuf, sebelum kata "Sufi" (yang menunjuk kepada
kelompok yang menekankan aspek spritual dalam kehidupannya), populer digunakan,
kelompok ini diberi atribut Al-Bakkauun yang berarti "Penangis atau yang suka
menangis". Kelompok ini yang dipelopori oleh Al-Hasan Al-Bashri, tiap kali
merenungkan ayat-ayat Al-Quran mereka menangis tersedu-sedu. Ketika surga
disebut, mereka mengucurkan airmata sambil berharap dapat memasukinya, dan
ketika siksaan neraka digambarkan mereka pun menangis karena takut terjerumus
kepadanya.
Pengalaman spiritual seseorang
khususnya di tempat-tempat suci membangkitkan rasa syahdu, khusyuk sehingga
airmata laju tak terbendung. Umat Yahudi bahkan memiliki Wailing Wall (Dinding
Ratap), dimana mereka meratap sambil memohon ampunan. Demikian halnya umat
Kristen ketika ke Jerusalem, sambil mengenang kehidupan serta perjalanan
spiritual Yesus, airmata yang membasahi pipi terlihat dimana-mana. Tidak
ubahnya dengan umat Islam yang berdiri di Multazam (sisi kanan Hajar Aswad di
Ka'bah).
Belum lagi saat di makam Rasulullah
di Madinah sambil mengucapkan salam dan penghargaan kepada Beliau, suara tangis
terdengar walau dari kejauhan. Sungguh, bahasa airmata secara jelas
menyampaikan pesannya, "Ya Tuhan, aku datang memohon ampunan dan
mengharapkan rahmat. Ya Tuhan, berilah aku kekuatan untuk mengikuti jejak
RasulMu".
Dalam Al-Qur'an kita jumpai
kata-kata menangis, atau cucuran airmata disebut beberapa kali. Terkadang
menggambarkan kesedihan atas kematian (44:29), atau kekhawatiran atas ancaman
Tuhan (53:60). Terekam pula airmata saudara-saudara Nabi Yusuf AS. saat
mengelabuhi ayahnya, Nabi Ya'qub AS. (12:16). Tangis sedu lagi khusyu' sebagai
manifestasi iman kepada Allah SWT (17:107 dan 19:58). Curahan airmata dibarengi
dengan kesaksian terhadap kebenaran wahyu ilahi (5:83). Tergambar pula tangisan
suatu kelompok yang bersedih hati karena harus tertinggal dari suatu peperangan
dijalan Allah (9:92).
Mari kita merenung bersama, apa yang
menjadikan airmata kita melaju. Apakah hanya terbatas ketika sedih karena
kehilangan, depresi karena frustasi, atau ketidakberdayaan karena jalan buntu?
Masih tertinggalkah tetesan airmata saat mendengar peringatan Tuhan, atau
mengenang perjuangan rasul-rasul Nya? Semoga demikian. [undzurilaina.blogspot.com]
Penulis adalah Professor pada
Hartford Seminary, Connecticut, USA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar